Plagiarism Checker X Originality Report

Plagiarism Quantity: 49% Duplicate

Date Monday, February 12, 2018
Words 927 Plagiarized Words / Total 1895 Words
Sources More than 84 Sources Identified.
Remarks High Plagiarism Detected - Your Document needs Critical Improvement.

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA MULYOREJO, KEC.KRATON, KAB.PASURUAN Lailatul Nujulah Akademi Kebidanan Sakinah Pasuruan Abstract Nutrition is one of the determinants of quality of human resources, malnutrition will lead to failure of physical growth and development of intelligence, decrease work productivity and endurance, resulting in increased morbidity and mortality. Based on nutrition status in Desa Mulyorejo in June 2017, the incidence of infants with lower weight to 16 infants (10.12%) out of a total of 158 toddlers.

Lack of nutrition one of them caused by lack of knowledge of mother about balanced nutrition. To find out whether there is a relationship between maternal knowledge about balanced nutrition with nutritional status of children under five in Desa Mulyorejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. The research design used observational analytic method with cross sectional study. Sample size is 38 children 1-5 years old and 38 mothers under five who fulfilled the criteria inclusion.

Sampling used purposive sampling technique with interview by questionnaire about mother knowledge. Based on spearman test results obtained p value 0.034 with correlation coefficient 0.345 which means there is a low relationship between maternal knowledge about nutrition balance with nutritional status of children under five in Desa Mulyorejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Conclusion in this research is there is relation between mother knowledge about nutrition balance with nutrition status balita in Desa Mulyorejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Keyword: Knowladge, Nutrition Balance, Nutrition Status Balita. PENDAHULUAN Gizi merupakah salah satu penentu kualitas SDM, kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan produktifitas kerja dan daya tahan tubuh, yang berakibat meningkatnya kesakitan dan kematian.

Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu, sejak janin yang masih didalam kandungan, bayi, anak-anak, remaja dewasa sampai usia lanjut. Ibu atau calon ibu merupakan kelompok rawan, karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya, agar dapat melahirkan bayi yang sehat (Depkes, 2003). Berdasarkan Pemantauan Status Gizi di desa mulyorejo pada bulan Juni 2017, kejadian bayi dengan berat badan bawah garis merah berjumlah 16 balita (10,12%) dari total 158 balita. Berdasarkan survei awal dari 10 responden yang mempunyai balita usia 1- 5 tahun di Desa Mulyorejo Kec Kraton Kab.Pasuruan di dapatkan 4 (40%) mempunyai pengetahuan baik, pengetahuan cukup 4 (40%), Pengetahuan kurang 2 (20%). Anak balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita.

Akibat kekurangan gizi (Paath, 2004 : 66). Yaitu kelompok di bawah lima tahun (1-5 tahun). Karena anak balita baru berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa dan anak balita belum dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam memilih makanan, di pihak lain ibunya sudah tidak begitu memperhatikan lagi makanan anak balita. (Notoadmodjo, 2007) Kekurangan gizi disebabkan oleh beberapa faktor: kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi seimbang, serta adanya daerah miskin gizi (iodium). Masalah gizi berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang.

Anak yang menderita gizi kurang akan mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, dimana anak akan mempunyai IQ lebih rendah. Setiap anak yang berstatus gizi buruk mempunyai status risiko kehilangan IQ 10-13 poin dan daya tahan anak cenderung menurun, sehingga mudah terserang infeksi. (DepKes RI, 2007) Sebagai alat memberikan penyuluhan pangan dan gizi kepada masyarakat luas dalam rangka memasyarakatkan gizi seimbang, pada tahun 1995 Direktorat Gizi Depkes telah mengeluarkan pedoman umum gizi seimbang (PUGS).

Pedoman ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu rekomendasi konferensi gizi internasional di Roma pada tahun 1992 untuk mencapai dan memelihara kesehatan dan kesejahteraan gizi (nutritional well-being) semua penduduk yang merupakan prasyarat untuk pembangunan sumberdaya manusia. PUGS merupakan penjabaran lebih lanjut dari pedoman 4 sehat 5 semprna yang memuat pesan- pesan yang berkaitan dengan pencegahan masalah gizi kurang, maupun masalah gizi lebih yang selama 20 tahun terakhir telah mulai menampakkan diri di Indonesia.

Berdasarkan fenomena diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Seimbang Dengan Status Gizi Balita Di Desa Mulyorejo Kec.Kraton Kab.Pasuruan. METODE PENELITIAN Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelasional yaitu penelitian yang mengkaji hubungan antar variabel. Penelitian korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel.

Pendekatan penelitian ini menggunakan cross sectional yang merupakan jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran/ observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada suatu saat. Dalam penelitian ini, variabel independen (pengetahuan ibu tentang gizi seimbang) dan dependen (status gizi balita) dikumpulkan dalam waktu bersamaan dengan menggunakan kuesioner untuk pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dan lembar observasi untuk status gizi balita.

HASIL PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada 38 responden yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita umur 1-5 tahun di Desa Mulyorejo, Kec Kraton, Kab.Pasuruan, karakteristik responden disajikan dalam tabel dibawah ini: 1. Karakteristik responden di desa Mulyorejo Kec. Kkraton Kab. Pasuruan Tabel 1 Karakteristik responden di desa Mulyorejo Kec.Kraton, Kab.Pasuruan No. Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Umur Ibu 1. SD  22 57,9  2. SMP  9 23,7  3. SMA  7 18,4  4.

S1  - 0    Total 38 100  Pekerjaan  1. Tidak bekerja 36 94,8  2. Bekerja 2 5,2   Umur balita Total 38 100 1. 12-24 Bulan 14 36,8  2. 25-36 Bulan 13 34,3  3. 37-48 Bulan 7 18,3  4. 49-60 Bulan 4 10,6  Total 38 100  Jenis Kelamin balita    1. Laki-laki 19 50  2. Perempuan 19 50  Total 38 100   Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar 29 (76,3%) berumur <35 tahun. Lebih dari setengah 22 (57,9%) responden berpendidikan SD dan sebagian besar 36 ( 94,8%) tidak bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.

Sedangkan dari 38 jumlah balita yang dijadikan responden didapatkan sebagian kecil 14 (36,8%) berusia 12-24 bulan, 13 (34,3%) berusia 25-36 bulan, 7 ( 18,3) berusia 37-48 bulan, 4 ( 10,6%) berusia 49-60 bulan, sedangkan untuk jenis kelamin balita rata- rata sama yaitu 19 (50%) laki-laki dan 19( 50%) perempuan. 2. Karakteristik responden (Ibu balita) berdasarkan tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang di desa mulyorejo, Kec. Kraton Kab. Pasuruan Tabel 2 Karakteristik responden Karakteristik responden ( Ibu balita) berdasarkan tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang di desa mulyorejo, Kec.

Kraton Kab. Pasuruan. Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)  Kurang 5 13,2  Cukup 9 23,7  Baik 24 63,1  Total 38 100   Berdasarkan table 2 didapatkan bahwa dari 38 responden sebagian besar 24 ( 63,1%) memiliki pengetahuan baik tentang gizi seimbang, sebagian kecil 9 (23,7%) memiliki pengetahuan cukup tentang gizi seimbang dan 5 (13,2%) memiliki pengetahuan kurang tentang gizi seimbang. 3.

Karakteristik responden ( Balita usia 1-5 tahun) berdasarkan status gizi balita di desa mulyorejo kec.Kraton,Kab. Pasuruan Tabel 3 Karakteristik responden ( Balita usia 1-5 tahun) berdasarkan status gizi balita di desa mulyorejo kec.Kraton,Kab. Pasuruan. Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)  Kurus 4 10,6  Normal 29 76,3  Gemuk 5 13,1  Total 38 100   Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa dari 38 responden sebagian besar 29 (76,3%) balita status gizinya normal, sebagian kecil 5(13,1%) balita status gizinya gemuk, dan 4 (10,6%) balita status gizinya kurus. 4. Hubungan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita di desa mulyorejo, kec.kraton Kab.Pasuruan.

Tabel 4 Hubungan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita di desa mulyorejo, kec.kraton Kab.Pasuruan. Pengetahuan Gizi Seimbang  Status Gizi Total Kurus Normal Gemuk f % f % f % f % Kurang 4 80 0 0 1 20 5 100 Cukup 0 0 8 88.9 1 10.1 9 100 Baik 0 0 21 87.5 3 12.5 24 100 Total 4 10.6 29 76.3 5 13.1 38 100 P –vaule : 0.034 Koefisien korelasi 0.345 Data pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 5 ibu yang berpengetahuan kurang tentang gizi seimbang tidak satupun memiliki balita dengan status gizi normal, sedangkan dari 24 ibu yang berpengetahuan baik tentang gizi seimbang tidak satupun memiliki balita dengan stautus gizi kurus.

Selanjutnya untuk menguji signifikasi hubungan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan korelasi spearman dengan tingkat kemaknaan nilai p maka nilai ini menandakan hubungan yang rendah antara pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita di desa Mulyorejo Kec.Kraton Kab.Pasuruan. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan disajikan dalam bentuk tabel selanjutnya dibahas untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita seperti dibawah ini: 1. Pengetahuan ibu tentang gizi seimbang di Desa Mulyorejo, Kec.Kraton, Kab.Pasuruan.

Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil bahwa sebagian besar 24 (63,1%) ibu balita berpengetahuan baik tentang gizi seimbang meskipun sebagian besar 22 (57,9%) responden berpendidikan SD dan sebagian besar 36 (94,8%) ibu tidak bekerja. Menurut suharjo 2003 pengetahuan gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor, disamping pendidikan yang pernah dijalani faktor lingkungan sosial dan frekuensi kontak dengan media masa juga bisa mempengaruhi pengetahuan tentang gizi.

Ibu dengan tingkat pendidikan rendah dengan adanya perkembangan teknologi saat ini dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai media, sehingga mereka dapat meningkatkan pengetahuannya. (Astuti 2013). jadi bisa disimpulkan bahwa meskipun pendidikan ibu balita di desa Mulyorejo sebagian besar adalah SD tidak menutup kemungkinan bahwa pengetahuannya juga akan kurang. Didesa mulyorejo juga didaparkan bahwa sebagian besar ibu tidak bekerja.

Menurut Mubarok 2007 menyatakan bahwa ibu rumah tangga mempunyai waktu lebih banyak untuk menambah wawasan dan pengetahuan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan. 2. Status gizi balita di Desa Mulyorejo, Kec.Kraton, Kab.Pasuruan Status gizi balita didesa Mulyorejo terdapat tiga kategori yaitu kurus, normal dan gemuk. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 38 balita didapatkan sebagian besar 21 (87,5%) status gizinya normal dan sebagian kecil 4 (10,6%) status gizinya kurus serta 5 (13,1%%) memiliki status gizi gemuk. Dari tabel 1.1

menunjukkan sebagian besar 29 (76,3%) ibu balita berusia <35 tahun kategori usia muda, dari balita yang status gizi kurus dan gemuk (37,5%) terjadi pada ibu yang berumur tua. Menurut teori khomsan 2007 yang menyatakan bahwa umur merupakan indikator penting dalam menentukan produktifitas seseorang dibandingkan dengan orang yang lebih tua, orang yang masih muda memiliki produktifitas yang lebih tinggi karena kondisi fisik dan kesehatan orang muda yang masih prima.

Menurut Rahardjo 2011 menyatakan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang artinya dalam hal kematangan pembentukan pola konsumsi makanan yang berpengaruh terhadap status gizi balita. Sebagian besar 36 (94,8%) ibu balita tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga. Orang tua yang tidak bekerja cenderung mempunyai banyak waktu untuk memperhatikan asupan nutrisi anak. Sehingga pola konsumsi anak terhadap makanan-makanan yang dapat menyebabkan terjadinya malnutrisi dapat dijaga dan lebih ketat terpantau oleh ibu ( Nirwana, 2012) 3. Hubungan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita di Desa Mulyorejo, Kec.Kraton Kab.Pasuruan Berdasarkan tabel 4 dapat dijelaskan bahwa ibu dengan pengetahuan baik sebagian besar mempunyai balita dengan status gizi normal sebanyak 21 (87,5%).

Responden yang mempunyai pengetahuan cukup sebagian besar mempunyai balita dengan status gizi normal sebanyak 8 (88,9%). Responden yang mempunyai pengetahuan kurang sebagian besar mempunyai balita dengan status gizi kurang sebanyak 4 (80%) balita. Hasil analisis SPPS dengan uji spearman didapatkan nilai p 0,034 <0,05 dengan koefisien korelasi 0,345 berarti ada hubungan yang rendah antara pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita di Desa Mulyorejo, Kec.Kraton, Kab Pasuruan.

Pengetahuan tentang gizi sangat diperlukan agar dapat mengatasi masalah yang timbul akibat konsumsi gizi. Wanita khususnya ibu sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap konsumsi makanan bagi keluarga, ibu harus memiliki pengetahuan tentang gizi baik melalui pendidikan formal maupun informal (sediaoetomo, 2006). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh wahyana 2015 yang menyatakan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita, semakin baik pengetahuan ibu tentang gizi seimbang maka semakin baik status gizi balita.

Pada akhirnya akan mendorong seseorang utuk menyediakan makanan sehari- hari dalam jumlah dan kualitas gizi yang sesuai dengan kebutuhan. Menurut Hutagalung 2012 menyatakan bahwa ibu yang memiliki tingkat pengetahuan kurang akan memiliki risiko 108 kali balitanya mengalami gizi kurang. KESIMPULAN DAN SARAN Ada hubungan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita di Desa Mulyorejo, Kec.Kraton Kab.Pasuruan. Adapu saran peneliti yaitu kepada ibu yang memiliki balita dengan status gizi kurus dan gemuk agar memperbaiki status gizi balitanya menjadi normal dan perlu diketahui hubungan pola makan dengan status gizi balita. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 2003. Pedoman praktis terapi Gizi Medis. Jakarta: Depkes RI. Depkes RI. 2007.

Kesehatan Ibu dan Anak. Buku Panduan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Depkes RI. Hutagalung. H. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita ( 12- 59 bulan) di Desa Bojonggede Kabupaten Bogor. Tesis. Fakultas kesehatan masyarakat universitas Indonesia. Khomsan. A. 2007. Anak ogah makan, salah Ortu. http://www.indomedia.com/intisari/ht m. Mubarak. I.W. 2007. Promosi kesehatan: sebuah pengantar proses belajar mengajar dalam pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nirwana. A, Benih. 2012. Obesitas Anak & pencegahannya.

Yogyakarta: nuha medika. Notoatmodjo. S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta. Paath, E.F. 2004. Gizi dalam kesehatan reproduksi. Jakarta: EGC. Sediaoetama, A.D 2006. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi. Jilid I. Jakarta: dian rakyat. Suhardjo. 2008. Perencanaan pangan dan Gizi. Jakarta: PT.Bumi Aksara. Waryani. 2015. Hubungan pengetahuan ibu tentang gizi balita dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Pleret Bantul, Yogyakarta. Thesis. STIKES Aisyiyah Yogyakarta.