Plagiarism Checker X Originality Report

Plagiarism Quantity: 33% Duplicate

Date Tuesday, February 06, 2018
Words 650 Plagiarized Words / Total 1951 Words
Sources More than 86 Sources Identified.
Remarks Medium Plagiarism Detected - Your Document needs Selective Improvement.

EFEKTIFITAS PEMBERIAN EKSTRAK JAHE TERHADAP INTENSITAS DISMENORE PADA MAHASISWI AKADEMI KEBIDANAN SAKINAH PASURUN Kurnia Dini Rahayu, S.ST.,M.PH1), Lailatul Nujulah,S.ST.,M.Kes2) Akademi Kebidanan Sakinah Pasuruan poncohadiwibowo@gmail.com ABSTRAK Latar belakang : Dismenore merupakan gejala yang paling sering terjadi pada remaja putri, sehingga berdampak pada penurunan kualitas hidup terutama karena aktivitas belajar yang terganggu, tidak masuk atau absen dari sekolah.

Dismenore terjadi karena adanya kontraksi otot rahim akibat peningkatan prostaglandin sehingga menyebabkan vasospasme dari arteri uteri yang menyebabkan iskemia dan kram pada abdomen bagian bawah yang akan merangsang rasa nyeri pada saat menstruasi. Angka kejadian (prevalensi) dismenore berkisar 45-95% di kalangan wanita usia produktif. Angka kejadian dimenore tipe primer di Indonesia adalah sekitar 54,89% sedangkan sisanya adalah penderita dengan tipe sekunder.

Salah satu cara atau intevensi untuk mengurangi nyeri dengan ramuan herbal yaitu dengan mengkonsumsi ekstrak jahe. Kandungan oleoresin yang terdiri dari gigerol dan shogaol yang terdapat pada jahe berfungsi sebagai anti inflamasi dan analgetik dengan memblokir prostaglandin sehingga berdampak pada penuruan intensitas nyeri menstruasi. Subjek dan Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental dengan desain penelitian one-group pretest-postest.

Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian ekstrak jahe. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswi tingkat II Akademi Kebidanan Sakinah Pasuruan yang mengalami dismenore yaitu sebanyak 26 mahasisiwi. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan dengan menggunakan numeric rating scale dengan skala 0-10. Data hasil penelitian diuji dengan menggunakan uji paired t-test. Hasil : Penelitian dilakukan terhadap 26 responden dengan intervensi pemberian ekstrak jahe.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas nyeri sebelum intervensi hampir seluruhnya responden berada pada skala nyeri sedang (81 %) dan sesudah intervensi hampir seluruhnya berada pada skala nyeri ringan (73%). Hasil uji paired t-test didapatkan ada perbedaan yang bermakna rata rata intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi (p value 0,000). Kesimpulan : Pemberian intervensi ekstrak jahe efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore sehingga ekstrak jahe dapat dijadikan salah satu pilihan pengobatan non farmakologi (herbal) untuk mengurangi nyeri dismenore.

Kata Kunci : Dismenore, Ekstrak jahe, Remaja Putri PENDAHULUAN Remaja atau adolescence (Inggris) berasala dari bahasa latin “adolescere” yang berarti tumbuh kearah kematangan (Nadliroh,2013). Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12-24 tahun. Menurut Depkes RI antara usia 10-19 tahun dan belum menikah, sedangkan menurut BKKBN adalah usia 10-19 tahun (Widyastuti.,dkk, 2009). Menstruasi atau datang bulan merupakan salah satu ciri kematangan yang terjadi pada perempuan.

Menstruasi biasanya diawali pada usia remaja 9-12 tahun, namun ada sebagian kecil yang mengalami keterlambatan yaitu pada usia 13-15 tahun. Perempuan akan mengalami menstruasi setiap bulan hingga mencapai usia 45-55 tahun atau yang biasa disebut menopouse. Waktu rata-rata perempuan menstruasi antara 3-8 hari dengan siklus haid bervariasi rata-rata 28 hari (Anurogo, 2011). Pada saat menstruasi sebagian besar masalah yang dialami adalah rasa nyeri atau tidak rasa tidak nyaman di daerah abdomen yang disebut dismenore dan sering terjadi pada usia produktif.

Pada remaja putri yang mengalami dismenore terdapat kadar prostaglandin 10 kali lipat dibandingkan yang tidak mengalami dismenore (Guyton and Hall, 2007). Lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami dismenore. Sementara di Indonesia diperkirakan 55% perempuan usia produktif mengalami dismenore pada saat menstruasi. Sedangkan di tempat penelitian hampir 50% mahasiswi mengalami dismenore pada saat mentruasi terutama pada hari pertama dan kedua. Intensitas nyeri setiap perempuan berbeda tergantung dari persepsi tentang nyeri itu sendiri dan pengalaman nyeri (Tracey, 2007).

Dismenore yang paling sering terjadi pada remaja putri adalah dismenore primer (primary dysmenorrrhea). Dismenore primer paling sering terjadi sekitar 50% wanita umur reproduksi dan 60-80% pada remaja dan 67% pada umur dewasa yang mengakibatkan banyak absensi pada sekolah, kuliah maupun kerja (Woo and Eneaney, 2013). Dismenore primer merupakan nyeri menstruasi yang bukan karena adanya gangguan fisik akan tetapi karena jumlah kadar postaglandin yang berlebihan sehingga menyebabkan hiperaktivitas uterus (Tambayong, 2000). Banyak cara untuk menghilangkan atau menurunkan dismenore baik secara farmakologis maupun non farmakologis.

Sebagian besar remaja putri menggunakan obat obat analgesik untuk mengatasi dismenore. Tetapi obat obatan tersebut memiliki efek samping yang merugikan (Harel, 2006). Terapi lain yang dapat digunakan adalah dengan terapi herbal dengan obat obat tradisional yang berasal dari bahan bahan tanaman. Beberapa tanaman yang dipercaya dapat mengurangi rasa nyeri adalah kunyit, asam jawa, kayu manis, cengkeh, jahe (Anurogo, 2011). Salah satu ramuan atau terapi herbal yang dapat digunakan adalah dengan mengkonsumsi air jahe, yang mudah didapat, murah dan terjangkau.

Jahe sama efektifnya dengan obat analgetik asam mefenamat dan ibuprofen (Anurogo, 20011). Jahe menjadi pilihan karena tingginya kandungan oleororesin. Oleoresin merupakan komponen biokatif yang terdiri dari gingerol dan shogaol yang berfungsi sebagai antiinflamasi yang dapat memblokir prostaglandin sehingga dapat menurunkan intensitas dismenore atau nyeri menstruasi (Ozgoli.,et all, 2009). SUBYEK DAN METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasy eksperimen dengan desain penelitian one group pretest-posttest dimana dalam pelaksanaannya diberikan intervensi dengan memberikan ekstrak jahe. Ekstrak jahe diberikan pada hari ke tiga sebelum menstruasi sampai dengan hari pertama menstruasi.

Pengukuran intensitas dismenore diukur sebelum diberikan intervensi dan sesudah diberikan intervensi. Sampel dalam penelitian ini adalah 26 mahasiswi Tingkat II Akademi Kebidanan Sakinah yang mengalami disminorea yang memenuhi criteria penelitian yang ditentukan peneliti yaitu: 1) mahasiswa yang mengalami dismenorea pada hari ke 1-3 menstruasi, 2) mahasiswa yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling.

Analisis bivariat digunakan untuk menguji pengaruh pemberian ekstrak jahe terhadap dismneore, dalam menganalsisi data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan uji statisik uji t-paired I digunakan untuk membandingkan disminore sebelum atau sesudah perlakuan. Tingkat kemaknaan a = 0,05 HASIL Hasil analisis statsitik deskriptif berdasarkan umur, lama menstruasi, riwayat dismenore dan nyeri sebelum diberikan intervensi dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 1 Hasil Analisis Statsitik Deskriptif terhadap Umur, Lama Menstruasi Variabel Umur Lama Menstruasi  Nilai Maksimum 21 11  Nilai Minimum 18 3  Mean 19,08 6,6  Median 19 7  Range 2 5  Tabel 1 dapat dilihat bahwa umur rata rata responden yang mengalami dismenore adalah 19 tahun, kemudian rata rata lama menstruasi responden yang mengalami dismenore adalah 7 hari.

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Penatalaksanaan Dismenore Jenis Penanganan f %  Minum obat 3 12  Minum jamu 2 7  Distraksi 3 12  Kompres air hangat 3 12  Minum air putih 7 26  Pengalihan perhatian 8 31  Tabel 2 menunujukkan bahwa hampir sebagian responden melakukan penanganan terhadap dismenore dengan minum air putih sebesar 26 % dan pengalihan perhatian seperti tidur,istirahat, mengobrol dengan teman yaitu sebesar 31 %. Tabel 3 Distribusi Frekuensi Intensitas Nyeri Menstruasi Sebelum dan Sesudah Intervensi Intensitas Nyeri Sebelum Intensitas Nyeri Sesudah   f %  f %  Ringan 1 4 Ringan 19 73  Sedang 21 81 Sedang 5 19  Berat 4 15 Berat 2 8  Jumlah 26 100 Jumlah 26 100  Tabel 3 disimpulkan bahwa presentase terbesar intensitas nyeri sebelum dilakukan intervensi adalah responden yang mengalami nyeri sedang yaitu sebesar 81 %.

Sedangkan presentase terbesar intensitas nyeri sesudah dilakukan intervensi adalah nyeri ringan sebesar 73%. Tabel 4 Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah Intervensi Intensitas Nyeri N Mean±SD Koefisien Korelasi (r) Perbedaan Rerata (IK 95%) P value  Sebelum 26 2.12±.431  .584  .561-.977  .000  Sesudah 26 1.35±.629     Berdasarkan tabel 5 diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata intensitas nyeri sebelum diberikan intervensi ekstrak jahe yaitu sebesar 2,12 dan sesudah diberikan intervensi ekstrak jahe adalah sebesar 1,35.

Penurunan nilai rata-rata intensitas nyeri pada responden sebelum dan sesudah sebesar 0,77, sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan intensitas nyeri sebelum dan sesudah diberikan intervensi ekstrak jahe. Hasil uji statistik menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) yang menunjukkan besarnya hubungan antara sebelum dan sesudah intervensi sebesar 0,584. Hasil analisis statistik didapatkan nilai p value sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rerata intensitas nyeri yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi ekstrak jahe.

PEMBAHASAN Nyeri merupakan reaksi penting bagi tubuh terhadap provokasi saraf saraf sensorik nyeri yang dapat menimbulkan reaksi ketidakyamanan (Guyton,2007). Nyeri menstruasi atau dismenore terjadi akibat keluarnya hormon prostaglandin dari sel-sel dinding endometrium yang mengalami deskuamasi karena penurunan hormon estrogen progesteron sehingga menyebabkan iskemia jaringan (Prawirohardjo,2010). Ovarium merupakan organ yang terlibat dalam produksi prostaglandin didalam uterus. Produksi prostaglandin dalam jumlah yang besar akibat dari tingginya kadar estrogen pada saat fase lutheal (Lumsden,2005).

Dismenore dapat menimbulkan dampak pada aktivitas atau kegiatan wanita khususnya remaja. Dismenore membuat remaja absensi dari sekolah atau kuliah sehingga keadaan tersebut menyebabkan menurunnya kualitas hidup wanita (Prawirohardjo,2010). Sebagian besar wanita menggunakan obat-obatan analgesik untuk mengatasi masalah dismenore (Dawood,2006). Penanganan awal untuk dismenore tanpa kelainan organ reproduksi (dismenore primer) dalah dengan pemberian obat analgesik dan sekitar 80% penderita mengalami penurunan rasa nyeri setelah meminum obat antiprostaglandin yaitu ibuprofen, asam mefenamat, dan aspirin , akan tetapi obat-obatan tersebut memiliki efek samping gangguan pada saluaran pencernaan seperti mual, muntah, dan rasa penuh di lambung (Harel, 2006).

Jahe (Zingiber officinale) merupakan salah tanaman yang dipercaya dapat menurunkan rasa nyeri menstruasi. Jahe bersifat menghangatkan tubuh, antirematik, antiinflamasi dan analgesik. Senyawa shogaol dan gingerol merupakan senyawa yang terdapat pada jahe yang dapat mengurangi rasa nyeri. Jahe sebagai antinflamasi mempunyai cara kerja adalah dengan menghambat kerja enzim siklus cyklooksigenase (COX) sehingga dapat menghambat pelepasan enzim tersebut menuju prostaglandin yang menyebabkan terjadinya inflamasi.

Hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan prostaglandin dan leukotrien yang merupakan mediator radang sehingga jahe direkomendasikan untuk remaja atau wanita yang menderita dismenore (Ozgoli.,et.al,2009). Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat perbedaan bermakna penurunan intensitas nyeri sebelum dan sesudah diberikan intervensi ekstrak jahe. Hal ini ini diperkuat dengan penelitian yang menyatakan bahwa jahe memiliki efektifitas menurukan rasa nyeri sama dengan asam mefenamat dan ibuprofen (Black.,et.al,2010).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya bahwa jahe dapat digunakan selama 3 bulan sampai dengan 2,5 tahun tanpa efek samping (Rahnama,.et.al,2012). Penurunan intesitas nyeri haid yang dialami responden dikarenakan adanya impuls rasa hangat yang merupakan efek dari ekstrak jahe yang mengenai bagian yang terasa nyeri yaitu perut bagian bawah. Rasa hangat dari jahe direspon oleh ujung syaraf yang berada di dalam kulit dan sensitif terhadap suhu. Stimulasi ini mengrimkan impuls dari perifer ke hipotalamus sehingga timbul kesadaran terhadap suhu lokal dan memicu respon adaptif untuk mempertahankan suhu normal tubuh (Potter and Perry,2005).

SIMPULAN Presentase terbesar intensitas nyeri sebelum dilakukan intervensi adalah nyeri sedang (81%), dan presentase terbesar intensitas nyeri sesudah dilakukan intervensi adalah nyeri ringan (73%). Berdasarkan uji statsitik disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna penurunan intensitas nyeri sebelum dan sesudah diberikan intervensi ekstrak jahe (p value 0,000). Sehingga ekstrak jahe dapat dijadikan salah satu pilihan pengobatan non farmakologi (herbal) untuk mengurangi nyeri dismenore.

SARAN Sebagai bahan pertimbangan atau masukkan dalam bidang kesehatan terutama promotif dan preventif sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat terutama mahasiswi Akademi Kebidanan Sakinah Pasuruan. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh mahasiswi Akbid Sakinah Pasuruan untuk mengatasi dismenore secara non farmakologis. DAFTAR PUSTAKA Anurogo, W. Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid.Yogyakarta:C.V Andi Offset.2011 Black C.D,Herring M.P,Hurley D.J,O’Connor P.J.2010.Ginger (Zinger Officinale) Reduces Muscle Pain Caused By Eccetric Exercise.The Journal of Pain Dawood.M.Y. Primary Dysmenorrhoea:Advances In Pathogenesis and Management.2006.Vol 108.Clinical Expert Series:American College of Obstretrician and Gynecologis Giti Ogoli,Marjan Goli,Fabiroz Moattar.2009.

Comparison with Primary Dymesnorrhoea of Ginger, Mefenamic Acid and Ibuprofen On Pain In women With Primary Dysmenorrhoea.Journal Of Alternatif and Complementary Medicine Vol 15 Guyton A.C and Hall J.E.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran,11 th ed.Jakarta Harel.Z.2006.Dysmenorrhoae In Adolescent and Young Adults:Etiology and Management.North American Society for Pediatric and Adolescent Gynecology:Published Elsiever Kelly Tracey.2007.5 Rahasia Alami Meringankan Sindrom Pramenstruasi.Jakarta:Erlangga Lumsden.M.A.2005.Dysmenorrhoea.Women’s Heath Medicine Nadliroh.2013.Kecemasan Remaja Putri Dalam Menghadapi Nyeri Haid (Disminorhea) Pada Siswi Kelas VIII di SMPN 1 Mojoanyar Kabupaten Mojokerto.e-Journalp2m Poltekkes Majapahit Potter,P.A

and Perry,A.G.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep dan Praktik.Edisi 4.EGC:Jakarta. Prawirohardjo.S.2007. Ilmu Kebidanan.YBP-SP:Jakarta. Rahnama P, Montazeri A,Huseini H.,Kianbakht S, M.Naseri. 2012.Effect of Zingeiber Officinale R Rhizomes (Ginger) On Pain Relie In Primary Dymenorrhoea: A Placebo Randomzied Trial.Department of Midwifery,Herbal Research Center,Shahed University:Tehran,Iran Widyastuti, yani, dkk.2009.Kesehatan Reproduksi.Fitramaya.Yogyakarta. Woo.P, Mc.Eneaney.M.J.2013.New Strategies To Treat Primary Dysmenorrhoae.The Clinical Advisor